Minggu, 03 Mei 2009

Cinta Andromeda (Tria Barmawi)











CINTA ANDROMEDA, CINTA SEBUAH ROBOT


Setelah menghasilkan 2 buku yang oleh Gramedia Pustaka Utama dimasukkan dalam kelompok novel Metropop, yaitu Lost In Teleporter dan Siapa Bilang Kawin itu Enak?, Tria Barmawi kembali menyapa pembaca buku dengan metropop berjudul Cinta Andromeda. Seperti halnya Lost In Teleporter, Cinta Andromeda, dilihat dari tema dan seting yang digunakan, bisa digolongkan sebagai novel sains fiksi populer.

Kendati tema sains fiksi sudah sering dilayarlebarkan, tema yang diangkat Tria ini tidak termasuk tema pasaran di dunia buku Indonesia. Hal itu disebabkan karena tema sejenis jarang dieksplorasi oleh penulis-penulis kita. Penulis yang pernah menggarap tema ini antara lain Marga T. Marga T menulis novelet sains fiksi,Si Jelita dari Chiyodaku yang dapat dijumpai dalam kumpulan novelet dan cerpen berjudul Ketika Lonceng Berdentang (Alam Budaya, 1986) serta novel berjudul Manusia Asap dari Pattaya(GPU, 1990). Sehingga boleh dikata, apa yang diangkat Tria Barmawi bukanlah tema yang baru.

Tapi tentu saja Tria Barmawi memiliki keistimewaan yang membuat novelnya memiliki daya tarik.Tria berhasil membangun novel sains fiksi dengan aroma populer yang sangat kental menggunakan karakter-karakter ala chiklit tanpa mengabaikan kenyataan perkembangan teknologi. Semua diraciknya dengan cerdas.

Kelebihan Tria yang lain adalah kemahirannya membangun plot, meletakkan suspens pada tempat-tempat tertentu, bahkan menyudahi novelnya dengan menggoda.Tria juga bisa disebut sebagai pencerita yang kocak.Dialog-dialognya yang menggelitik tawa bertaburan di sela-sela ketegangan yang dirancangnya.

Dari segi karakter-karakter ciptaannya, Tria memiliki kemampuan deskripsi yang tangguh sehingga tokoh-tokohnya terkesan meyakinkan dan tidak membingungkan.

Cinta Andromeda berseting Indonesia tahun 2070. Konon, saat itu mobil yang digunakan sudah sangat canggih sehingga ada mobil yang doyan ngerumpi. Tapi meskipun sudah tahun 2070, kata-kata seperti 'matre' atau 'ember' ternyata tidak menjadi kuno. Yang menjadi kuno adalah film-film seperti A.I. dan Stepford Wives serta novel Sophie Kinsella. Tapi yang mencengangkan adalah penggunaan robot yang sudah biasa untuk berbagai kebutuhan. Produsen robot berlomba-lomba menciptakan robot yang lama kelamaan semakin menyerupai manusia. Teknologi terus dikembangkan untuk menghasilkan robot yang bukan hanya secara fisik seperti manusia, tapi juga secara emosional. Sehingga, pada gilirannya, dapat ditebak, akan sulit sekali nanti membedakan manusia asli dan robot. Robot ala manusia ini dikenal sebagai android atau humanoid. Sebagai bayangannya bagi yang pernah nonton Stepford Wives, kira-kira akan tampak manusiawi seperti karakter yang diperankan Glenn Close dan Christopher Walken.

Adalah Andromeda, humanoid yang akan dijadikan prototipe untuk calon-calon manusia tetiron lainnya seperti "nanny-noid" dan "teacher-noid". Gerakannya sangat natural seperti ekspresi wajahnya. Teknologi canggih memberikannya kulit yang begitu halus, tingkat intelejensia yang yahud, kemampuan berbahasa asing, bermain biola, dan bela diri. Semuanya menyatu dalam fisik yang tak mengenal lelah. Andromeda adalah proyek ambisius Vinidici Technology yang ditujukan untuk mewujudkan impian setiap pembuat robot yaitu menciptakan android yang memiliki emosi, bisa mengasihi dan dikasihi. Untuk itu Andromeda digiring keluar Vinidici guna mendapatkan pembelajaran cinta dari manusia yang bisa menyayanginya dengan tulus tanpa mengetahui dia adalah mesin. Tim sukses Andromeda adalah Nunoid Project di bawah kepemimpinan Harrison dengan 5 supervisor yang terdiri atas Erik, Mariska, Ramon, Sonya, dan Melati.

Salsabila Rustam atau Salsa, 24 tahun, gadis cerdas dan baik hati, seorang perencana keuangan, dijadikan target untuk proyek edukasi cinta Andromeda. Salsa adalah satu dari 3 sekawan yang anggota lainnya adalah Kika, pakar komputer yang anggun, dan Wina, jurnalis fashion majalah nan cantik dan modis. Andromeda diperkenalkan kepada Salsa sebagai cowok impian yang memiliki karakter berbeda dengan cowok umumnya pada tahun 2070. Pada tahun 2070 diceritakan bahwa cowok-cowok semakin tidak punya rasa malu, dalam angkutan umum seperti monorail, mereka akan tetap duduk, meskipun di dekat mereka ada wanita hamil atau wanita yang kerepotan menggendong bayi. Andromeda memberikan tempat duduknya kepada Salsa, sehingga Salsa terpesona padanya. Apalagi Andromeda begitu tampan dan sempurna. Mereka pun menjalin hubungan.

Salsa memperkenalkan cowok impiannya kepada Kika dan Wina. Dan karena Andro itu android, ada saja keanehan yang dibuatnya. Misalnya jika fitur deteksi irisnya sedang aktif atau ketika dia menggunakan kalimat-kalimat khas robot. Naluri jurnalis Wina terusik mengamati keanehan-keanehan Andromeda. Wina melakukan penyelidikan untuk menyingkap jati diri Andromeda.Tanpa disadarinya, semua gerak-geriknya diamati oleh tim Nunoid Project. Akibatnya Wina dibunuh untuk mencegah kegagalan proyek Andromeda gara-gara ulahnya.

Sebuah perusahaan robot terkenal, Robotech Corporation tertarik dengan tawaran Nunoid Project. Perusahaan ini menginginkan Andromeda tidak sekadar android yang bisa dijadikan teman atau kekasih yang baik, tapi juga bisa berkeluarga dan memiliki anak. Oleh karena itu diatur supaya Salsa bisa menikah dengan Andromeda. Mereka bisa saling mencintai, berhubungan suami-istri dan bisa punya anak dengan memanfaatkan sperma dari bank sperma karena Andromeda tidak bisa memproduksi sperma sendiri. Kenyataan ini menggoyahkan Erik, kemudian Mariska. Mereka harus menyelamatkan Salsa sekalipun mesti menghancurkan kebahagiaan Salsa pada hari pernikahannya.

Secara keseluruhan, Cinta Andromeda adalah novel populer yang memikat. Gerak cerita diayun sang penulis dengan lepas. Tria sukses menggeliatkan kisah dengan cerdas dan kocak. Ada saat menegangkan. Ada saat menggelitik tawa. Ada saat pembaca digiring dalam irama kontemplatif ala Tria Barmawi. Kita akan dibawa Tria dalam kondisi seperti sedang menonton sebuah film berseting futuristik.

Walaupun tidak lepas dari kisah seputar cinta-cintaan, Cinta Andromeda mengusung pesan moral yang kuat dan jelas. Bahwa sudah selayaknya teknologi dikembangkan untuk kebutuhan manusia, tapi jangan sampai teknologi melecehkan dan merusak nilai-nilai kemanusiaan, agama dan norma-norma yang ada.

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan Tria dalam menyajikan ceritanya. Pertama, ketika Tria menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan filter dari satu karakter sebaiknya tuturan hati sang karakter dibedakan dengan tuturan narator. Sebagai contoh (hal. 169):

Hmm…benar dugaanku. Dia baru membuat gambar di saat-saat terakhir. Sejak tadi dia hanya mengamati orang lewat. Apa yang dia lakukan? Apa… Mariska tiba-tiba terhenyak. Apa dia mengikuti Andromeda tadi?

Jika membaca kalimat sebelum dan sesudahnya, kalimat ini tampak dituturkan oleh tokoh "aku", padahal Tria sedang memakai sudut pandang orang ketiga yang dibidik dari karakter Mariska.

Kedua, pada halaman 150 Tria menceritakan bahwa Wina dan Salsa sedang duduk-duduk di ruang keluarga rumah Salsa sambil ngemil. Pada halaman 155, setelah Salsa marah-marah, diceritakan bahwa, Wina berdiri dan melangkah keluar kamar. Padahal tidak diceritakan mereka pindah dari ruang keluarga ke kamar sembari bercakap-cakap. Dalam hal ini dibutuhkan ketelitian terutama dari pihak Tria sebagai penulis.

Ketiga, mungkin sebaiknya Tria menghindari dialog-dialog yang membingungkan. Baca halaman 186 ketika Salsa menanyai Kika apakah Wina meneleponnya. Kika berbohong dengan menyatakan bahwa Wina tidak meneleponnya. Tapi Kika juga menyebutkan bahwa Wina mengatakan padanya Wina mau lembur hari itu. Kika terus mengatakan soal lembur sampai halaman 191. Anehnya Salsa yang cerdas tidak menangkap ketidaklogisan kata-kata Kika, jika memang itu dimaksudkan penulis.

Tapi, untuk genre metropop ala Gramedia, jelas Cinta Andromeda adalah novel yang unik, pintar, dan menarik untuk dibaca.



Data Buku:
Judul Buku: Cinta Andromeda
Penulis: Tria Barmawi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan 1, Januari 2007


Kekasih Gelap (Sanie B. Kuncoro)



MANIS SENDU SANIE B. KUNCORO



Cinta adalah ladang tema yang sering dibajak dan digarap oleh banyak penulis di seluruh dunia. Pengaruhnya terhadap kehidupan manusia memang dahsyat. Cinta bisa membuat dunia lebih berwarna karena cinta bukan saja menawarkan kebahagiaan, tapi juga menawarkan torehan luka di hati manusia. Sekalipun bisa menyebabkan luka, manusia tetap tidak kapok-kapok untuk bercinta, dengan berbagai cara, terang-terangan, atau gelap-gelapan. Karena itu lahir lah buku dengan judul menantang "Kekasih Gelap".

Namun, jangan dulu buru-buru berpikir yang tidak-tidak. Jangan berharap akan menemukan eksplorasi seksual yang intens dalam buku ini seperti novel-novel Sandra Brown. Jangan juga menuduhnya sebagai chicklit yang cenderung memanfaatkan gaya tutur dan ide cerita yang senada seirama.

"Kekasih Gelap" karya Sanie B. Kuncoro adalah satu dari 2 novelet yang ada dalam buku ini. Novelet lain diberi judul "Jalan Sunyi". "Kekasih Gelap" mungkin ditonjolkan sebagai judul karena memenangkan Juara II Lomba Cerber Femina tahun 2003. Meskipun demikian, 2 novelet ini sesungguhnya memiliki kekuatan yang sama.

Apa pun yang Sanie tawarkan dalam ceritanya, ada benang merah yang menyejajarkan 2 novelet ini pada wilayah yang sama. Bahwa cinta, bagaimanapun rumitnya, bisa tercipta secara mendadak. Dan juga bisa terbelah kepada lebih dari satu orang.Itu lah yang dialami tokoh-tokoh Sanie dalam karyanya ini.

Dalam "Jalan Sunyi" Sanie menghadirkan karakter perempuan bernama Puan. Di tengah-tengah persiapan acara pernikahannya, mendadak Puan dihadapkan dengan pertanyaan ciptaannya sendiri. "Apakah aku siap?" (hal. 13). Puan mengalami depresi. Menjadi waswas dan takut dengan apa yang akan terjadi setelah menikah. Ketakutan yang menurut Jingga, sahabatnya (hal. 17) hanya terjadi pada pasangan yang dijodohkan. Padahal sebelum memutuskan menikah Puan dan calon suaminya, Limar, telah menjalin hubungan bertahun-tahun.

Jingga menyarankan Puan untuk berlibur. Sebagai tujuan liburan ditetapkan desa nenek Jingga, Tanah Bumi, yang secara geografis, tidak jelas ada di belahan mana di Indonesia. Puan menginap di rumah nenek Jingga, Umi. Tidak dijelaskan rinci, tapi rupanya nenek Umi bukan sembarangan nenek. Walau domisili di desa yang stasiun kereta apinya kecil, kusam, dan sunyi serta listrik menyala hanya sampai pukul 9 malam, nenek Umi membaca novel seperti Va' dove ti porta il cuore (Pergilah Ke mana Hati Membawamu) karya Susana Tamaro. Cara bicara nenek Umi juga cerdas menggunakan kata-kata seperti "menolerir", "filosofi air" dan "pengaruh hormon". Rupanya nenek Umi bukan nenek-nenek desa stereotipikal novel-novel kebanyakan.

Di Tanah Bumi, Puan bertemu Darga, seorang arsitek muda yang sedang menangani proyek resort di desa antah-berantah nan sepi itu. Cinta menyelip secara mendadak dalam hati masing-masing. Puan menampik gelora cintanya karena dia sudah menjadi calon pengantin. Meskipun berprinsip cinta masih bisa diperebutkan selama janur belum melengkung dan rumah belum berhias bunga pengantin, Darga mencoba mengalah. Justru Puan yang tidak bisa melupakan Darga bahkan setelah terpisah jauh dengan laki-laki itu. Kegelisahan Puan membuat Limar mengetahui ada orang lain selain dia dalam benak Puan. Limar menyerahkan keputusan masa depan hubungan mereka kepada Puan.

Sanie mengolah "Jalan Sunyi" dengan nada-nada manis dan sendu. Dia menunjukkan bahwa ada kalanya perempuan nekat mempertaruhkan kehidupannya untuk sesuatu yang sesungguhnya nihil. Cikal bakal kebahagiaan dirusakkan untuk pesona mendadak yang semu. Sekalipun menyadari cinta yang dimiliki Limar, tunangannya, begitu besar, Puan tidak cukup memiliki sikap untuk menghargainya. Akibatnya kelak, dia tidak punya pengampunan yang cukup untuk memaafkan dirinya sendiri.

Justru cinta Limar yang membebaskan mengetuk kesadaran Darga. Darga memutuskan untuk mengkhianati dirinya sendiri karena sadar tidak sanggup memberikan cinta sebesar cinta yang diberikan Limar pada Puan.

Keputusan yang kemudian diambil Puan tidak hanya menyakitkan hati satu orang saja, tapi sekaligus hati 3 orang.

Sanie menutup kisah "Jalan Sunyi" yang melodramatis dengan indah melalui proses batin tiga karakter utamanya yang sangsi dan kehilangan keyakinan diri.

Dalam "Kekasih Gelap" Sanie menghadirkan perempuan bernama Senja yang mau menjadi kekasih gelap Ruben. Ruben mengajak Senja ikut kapal pesiar karena Aline, istrinya yang tengah hamil ngidam naik kapal pesiar. Maksud Ruben, walaupun dia menemani istrinya, dia juga tetap bisa menikmati saat-saat indah di atas kapal pesiar bersama selingkuhannya.

Keikutsertaan Senja yang bak kerbau dicocok hidung diatur sedemikian rupa dengan memanfaatkan Benteng, laki-laki yang berutang judi pada Ruben. Benteng berperan sebagai pasangan Senja. Walaupun sempat bersitegang, mereka akhirnya bisa memahami diri masing-masing. Ketika kapal singgah di Bandar Melaka, keduanya mengunjungi gereja tua St. Paul dan benteng A Famosa. Di sana mereka bertemu Khalila yang mengubah paradigma dan visi mereka dan menciptakan impian untuk diwujudkan.

Sebenarnya ketika Senja bertemu Benteng pertama kali, arah cerita sudah bisa ditebak. Yang tidak bisa ditebak adalah peristiwa yang bakal mempersatukan mereka.

Sekali lagi Sanie menganyam sebuah kisah yang manis-sendu. Tapi dibandingkan dengan "Jalan Sunyi", "Kekasih Gelap" disampul dengan akhir yang memberikan harapan.

Baca keindahan bertutur Sanie manakala Senja menyadari apa yang telah ia lakukan selama ini adalah kesia-siaan belaka (hal. 136).

Senja mengatakan pada Ruben, "Yang kaupunya adalah cinta yang terbelah. Dan itu tidak cukup untukku." (hal. 146).

Ketika Ruben ngotot mempertahankan hubungan yang keliru, Senja menambahkan mantap, "….sesungguhnya aku hanyalah sekedar tamu di teras hatimu. Sebagai tamu, tentulah kau perlakukan aku dengan istimewa. Dan sebagai tamu kubawa sesuatu yang indah bagimu, sebagai variasi penyegar kehidupanmu. Tapi tamu tetaplah tamu. Waktuku hanya sesaat, hakku sangat terbatas. Begitu kuambil lebih dari yang sepatutnya, maka jadilah aku sebagai duri dalam daging dalam hidupmu". (hal. 147).

Secara keseluruhan, isi buku "Kekasih Gelap" dituturkan secara ringan tanpa menimbulkan kerinyut di wajah pembaca. Apalagi Sanie mengalirkan cerita tanpa bertele-tele, menderas pada lautan akhir yang menyentuh. Keduanya terasa indah dan bening. Dengan penuturan yang lebih intens, mengingat pengalaman menulis Sanie yang banyak, Sanie bisa hadir menjadi satu penulis yang meramaikan belantika sastra Indonesia. Sanie bisa mengembangkan wilayah ceritanya untuk tidak sekedar berkutat pada masalah cinta semata-mata.

Tapi untuk penggemar kisah cinta yang diracik manis dan indah, "Kekasih Gelap" bisa dijadikan alternatif bacaan.


Data Buku:

Judul Buku : Kekasih Gelap
Penulis : Sanie B. Kuncoro
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : C| Publishing, Desember 2006

Sabtu, 02 Mei 2009

Q n A (Vikas Swarup)



PELAYAN BAR 1 MILIAR RUPEE



Setelah debut Khaled Hosseini yang gemilang dengan novel berjudul The Kite Runner (edisi Indonesia diterbitkan Qanita, 2006), saya berharap akan tampil lagi novel dengan daya pikat yang lebih kurang sama, meskipun berbeda tema.

Q&A, novel dengan judul hanya 3 huruf menjawab harapan saya. Dan sama dengan The Kite Runner, Q&A adalah karya debut. Tapi kali ini bukan debut seorang dokter, melainkan diplomat asal India, Vikas Swarup. Vikas Swarup pernah bertugas di Turki, Amerika Serikat, Etiopia, dan Inggris. Saat ini bekerja di Departemen Luar Negeri India di New Delhi.

Tema kemanusiaan senantiasa menyentuh hati. Apalagi kalau tema tersebut dijalin dengan apik dan rancak dalam kecerdasan bertutur sang pengarang. Q&A memilikinya. Sejak pembagian babnya yang unik sampai cara pengarang mengemukakan gagasan sudah mengindikasikan betapa sesungguhnya Q&A adalah novel yang sangat menarik, berkarakter, dan pastinya akan memberikan petualangan baca yang menggairahkan.

Ide dasar Swarup tidak lain adalah kuis Who Wants To Be A Millionaire yang sangat populer di berbagai negara, termasuk India. Di India, kuis ini dikenal dengan nama Kaun Banega Crorepati (KBC). KBC yang diproduksi oleh Star Entertainment India awalnya memakai Amitabh Bachchan sebagai host. Setelah dua musim tayang, Amitabh Bachchan meninggalkan kursi host dan terakhir dikabarkan sebagai penggantinya adalah aktor tenar Shah Rukh Khan yang adalah salah satu kontestan musim pertama. Dalam Q&A, Swarup memplesetkan acara kuis tersebut menjadi Who Will Win A Billion (W3B). Acara ini diluncurkan di 35 negara oleh perusahaan New Age Telemedia. Di India, sebagai host-nya adalah aktor kelas dua, Prem Kumar, yang memegang 29% saham New Age Telemedia cabang India.

Terdapat skenario di balik acara kuis ini yaitu tidak boleh ada yang mendapatkan 1 miliar rupee sekurang-kurangnya sebelum 8 bulan penayangan dengan asumsi selama 8 bulan sebagian besar modal sudah kembali. Tapi skenario buyar ketika Ram Mohammad Thomas, seorang pramusaji bar berusia 18 tahun bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Pihak W3B menggunakan polisi korup untuk menghancurkan kemenangan Ram.

Di tengah penyiksaan yang dilakukan polisi, muncul seorang perempuan bernama Smita Shah yang mengaku sebagai pengacara Ram. Bersama Smita, kemudian, Ram begadang semalam-malaman menonton DVD rekaman acara kuis yang belum lagi ditayangkan televisi. Di antara acara menonton itu, Ram menjelaskan perjalanan hidupnya. Perjalanan hidup Ram tidak dituturkan secara kronologis, tetapi berdasarkan bagaimana kira-kira sampai Ram yang bukan anak sekolahan bisa menjawab tepat semua pertanyaan.

Beginilah dialog Ram dan Smita pada halaman 35:

"Jadi aku harus tahu seluruh kehidupanmu untuk memahami asal-mula jawaban-jawabanmu?" tanya Smita.

"Mungkin."

"Kurasa itulah kuncinya. Bagaimanapun juga, kuis sama sekali bukan tes pengetahuan, tapi tes ingatan, tes kenangan."

Kemudian terungkaplah cerita kehidupan Ram kepada pembaca.

Pada malam Natal, 18 tahun silam, Ram ditinggalkan di depan Gereja St. Mary oleh orang tuanya, sehingga seumur hidupnya, dia tidak mengenal siapa mereka. Ram diadopsi oleh suami-istri pekerja Gereja St. Joseph, lalu ditinggalkan pada Romo Timothy, pastor gereja tersebut karena suami-istri itu berpisah. Dalam suatu kejadian yang sangat menggelikan, dia memperoleh nama dari 3 agama, Ram Mohammad Thomas.

Sejak itu, kita akan diperkenalkan dengan orang-orang yang Ram temui dalam hidupnya. Hidup yang sangat berwarna.

Romo Timothy dan Romo John yang memiliki kehidupan ganda (bab 2.000).

Gupta, wakil kepala panti remaja yang suka melecehkan para penghuni panti kemudian menjual mereka kepada Babu Pillai yang membikin anak-anak itu cacat dan menjadikan mereka pengemis (bab 10.000).

Neelima Kumari, mantan aktris Bolywood yang tidak pernah menikah dan terobsesi dengan kecantikan abadi. Neelima tidak ingin mati dengan wajah tua dan keriput. Dia ingin mati seperti Marilyn Monroe atau Mandhubala. Oleh karena itu, dia berdandan secantik-cantiknya dan bunuh diri dengan harapan akan ditemukan mati dalam keadaan cantik. Tetapi apa yang terjadi pada Neelima, akan membuat kita miris sekaligus geli (bab 10.000.000).

Balwant Singh, seorang prajurit desertir yang bermulut besar yang akhirnya menjadi korban mulut besarnya (bab 500.000).

Armaan Ali, bintang film pujaan sahabat Ram, Salim, yang berpenampilan ala Salman Khan, tetapi ternyata gay. Salim yang mengidolakannya secara mengejutkan menjadi korban pelecehan sang aktor(bab 1.000).

Shantaram, ahli astronomi yang hidupnya hancur karena dikhianati sejawatnya dan mencoba melakukan pelecehan seksual kepada putrinya sendiri, Gudiya (bab 5.000).

Kolonel Taylor, si manusia serbatahu yang memperlakukan pembantu-pembantu Indianya dengan semena-mena. Kolonel yang ternyata seorang mata-mata akhirnya dikalahkan oleh rasa cinta tanah air seorang remaja yang namanya mewakili 3 agama (bab 50.000).

Perampok muda yang kejam dan mesum, yang mati setelah bergumul dengan Ram di atas kereta api (bab 200.000), membuat Ram melarikan diri ke Agra, bekerja sebagai pemandu wisata di Taj Mahal, bertemu dengan Shankar seorang anak autis dan perempuan bangsawan keji bernama Swapna Devi (bab 100.000.000).

Prakash Rao, direktur perusahaan kancing yang membunuh kakaknya, yang kemudian terbunuh dengan cara yang sama dengan kakaknya di hadapan Ram, sang pramusaji bar (bab 100.000).

Selain itu kita akan diperkenalkan dengan seorang remaja yang bercita-cita menjadi aktor terkenal, keluarga yang melacurkan anak perempuan mereka, dan pembunuh bayaran yang hobi bertaruh.

Semua bersengkarut untuk memberikan kemenangan pada Ram di acara kuis W3B. Mengendap dalam kenangan Ram, dan membuatnya berhasil melewati pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan Prem Kumar.

Masalah akhirnya datang menghempas kehidupan Ram. Polisi menggaruknya dari kediamannya seolah dia seorang penjahat. Padahal Ram ikut kuis tersebut motivasinya bukan untuk mencari uang, kendati hadiahnya sangat menggiurkan. Ram hanya pernah memiliki uang terbanyak dalam hidupnya ketika mengantongi 50 ribu rupee sebagai upah kerjanya selama bertahun-tahun yang kemudian dirampas darinya. Tetapi 1 miliar rupee bukan menjadi tujuan Ram yang sebenarnya.

Apakah sesungguhnya motivasi Ram?

Temukan kejutan Swarup menjelang tutup novel. Dan Swarup tidak hanya memberikan satu kejutan saja. Sesungguhnya nyaris di sekujur novel, tiap bab yang mengikuti jumlah uang yang akan diraih jika sukses menjawab pertanyaan, ada saja gedoran Swarup. Kita bisa melihat tiap bab, kecuali bab pertama dan 2 bab terakhir, seperti cerpen-cerpen dari orang-orang yang ditemui Ram dalam hidupnya dengan kejutan pada akhir kisah.

Q&A adalah sebuah novel yang menawan dalam segala aspeknya. Ide, penokohan, plot, dan gaya bercerita berkelindan menghasilkan novel cerdas mengharukan bak campuran komedi, melodrama dengan nuansa dongeng yang mengasyikkan. Mungkin pembaca akan terkenang dengan kisah-kisah si miskin yang harus menempuh jalan panjang menuju kebahagiaan. Ada saat mata kita akan dibuat berkaca-kaca. Ada saat senyuman, bahkan tawa tidak bisa kita kendalikan. Ada saat memerihkan hati. Tetapi ada saat jenaka dan bahagia. Semua hanya mengindikasikan betapa piawainya Vikas Swarup menggiring pembaca mengikuti pesonanya yang dahsyat.

Khusus untuk edisi Indonesia, temukan kiprah Agung Prihantoro, sang penerjemah yang tidak kalah piawai dalam seleksi diksi. Mungkin ada kata-kata yang kurang akrab bagi kita, sehingga harus membuka kamus untuk mengetahui artinya. Juga ada kata-kata yang nyaris hilang ditelan waktu seperti hatta, arkian, dan syahdan. Tetapi bukannya mengganggu, kata-kata itu hanya membikin karya ini semakin kocak dan menarik saja.

Di akhir novel, jangan lupa, misteri koin keberuntungan Ram Mohammad Thomas akan diungkapkan untuk melengkapi kejutan-kejutan lainnya.


Data Buku:

Judul Buku : Q & A
Penulis : Vikas Swarup
Penerjemah : Agung Prihantoro
Terbit: Cetakan 1, Desember 2006
Tebal : 458 halaman

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Yang Liu (Lan Fang)



WAJAH "TERBELAH" LAN FANG




Sepertinya tahun 2006 menjadi tahun hoki bagi perempuan penulis bernama Lan Fang. Perempuan "kebetulan" ini melahirkan kumpulan cerpen Laki-laki Yang Salah pada Januari 2006 (Gramedia Pustaka Utama) berisi 15 cerpen. Belum juga setahun (dilihat dari jadwalnya melahirkan), pada bulan Oktober 2006 Lan Fang telah melahirkan lagi. Bayi berikutnya adalah novel berjudul Perempuan Kembang Jepun (Gramedia Pustaka Utama). Setelah melahirkan Perempuan Kembang Jepun yang merupakan tour de force seorang Lan Fang sepanjang karier kepenulisannya hingga sekarang, Desember 2006 mengikuti istilahnya, Lan Fang "beranak" lagi. Kali ini proses bersalin Lan Fang dibidani oleh Bentang Pustaka.

Sering membaca karya Lan Fang, entah kenapa terasa aneh melihat bukunya di-display toko buku dan tidak berniat untuk membacanya (tentu saja setelah membeli).

Kali ini proses ngeden Lan Fang mewujud dalam "sel" 15 cerpen yang menjadi "jaringan" buku dengan judul Yang Liu. Semuanya serba perempuan. Maksudnya tokoh utamanya adalah perempuan seperti gender sang penulis.

Mau tidak mau, kita "dipaksanya" untuk mengacungkan dua jempol buat usahanya terus berkiprah di belantika sastra Indonesia. Ketika penulis-penulis cerita remaja sezamannya menghilang dari peredaran, ternyata Lan Fang tetap setia pada rotasinya.

Salah satu keunikan Yang Liu adalah penggunaan nama penulisnya, Lan Fang, dalam 9 cerpen yang ada. 5 cerpen tidak memberikan nama buat karakter utamanya, 1 cerpen perempuannya diberi nama Putri/Apel. Menurut cerpen berjudul Yang Liu, Lan Fang berarti "bunga anggrek yang harum semerbak". Padahal nasib perempuan-perempuan dalam ceritanya lebih cocok dengan kelopak bunga (yang berguguran setelah bunga mekar) daripada kuntum bunga itu sendiri.

Di kanvas estetika yang dibentangkan Fang, perempuan 'lan fang' yang beraneka rupa itu menjelma sosok yang terpuntir oleh hidup, nasib, cinta dan laki-laki. Potongan-potongan kehidupan para 'lan fang' disambung oleh Fang menjadi semacam "quilt" yang utuhnya menyajikan kesenduan. Terkadang malah sapuan "kuas" kata-kata perempuan kelahiran Banjarmasin 5 Maret 1970 ini berubah menjadi sapuan ujung skalpel yang menyebabkan perih di hati pembaca.

Cerita Ini Dimulai dari Tengah membuka sajian Fang. Rupanya disengaja karena cerpen ini menjadi salah satu ekspresi estetika Fang yang menonjol dalam antologi ini. Cerita dituturkan menarik menggunakan 2 pelaku sebagai pencerita yang berganti-ganti setiap pertemuan. Cerpen ini tergolong salah satu cerpen "perih" versi Fang yang menghadirkan tokoh perempuan tanpa payudara yang membunuh suaminya. Di ujung cerpen, Fang mengejutkan pembaca untuk alasan pembunuhan yang dilakukan Lan Fang, tokoh cerpen tersebut.

Setelah pembukaan yang manis, Fang menebarkan aroma sendu berulang kali.

Dreams Come True. Perempuan impulsif yang mendambakan kesempurnaan mimpi-mimpinya.

Yang Liu. Perempuan biasa yang menolak cinta laki-laki setelah pengalaman tragisnya dengan beberapa laki-laki.

Pangeran Kodok dan Putri Duyung. Perempuan pengarang ecek-ecek yang mengidamkan lahirnya sisi romantis kekasihnya yang menempatkan uang di atas segalanya, terutama cinta.

Aku, Denny, dan Matius. Perempuan lajang yang mempertanyakan pentingnya sebuah perkawinan kepada sahabat baiknya yang seorang laki-laki.

Istana Ilalang. Perempuan kesepian yang bercerai dari suaminya dan melarikan diri dalam tugas liputan di Borobudur untuk menghindari perkawinan mantan suaminya.

Ucal dan Si Monyet. Perempuan lajang yang mendadak merasa ngeri akan menghabiskan waktu sendirian jika teman laki-laki yang dekat dengannya menikah, sehingga menawarkan pernikahan kepada temannya itu.

Ulang Tahun Koko. Perempuan janda beranak satu yang terancam pemecatan sebagai pegawai asuransi padahal begitu banyak kebutuhan hidup yang harus dipenuhi termasuk untuk ulang tahun anak yang dicintainya.

Kemudian, pada mozaik cerpen yang kesembilan, Lan Fang bak keluar dari kerumunan cerita senada seiramanya. Rumah Tanpa Cermin adalah cerpen terindah dan terkuat Fang yang ditulis dalam antologi ini. Selain pemilihan judul dan tema yang elok, Lan Fang dengan pintar memberikan kita cermin untuk melihat refleksi diri kita sendiri melalui karakter perempuan dalam cerpen ini. Cerpen juga ditutup dengan efektif.

Setelah itu, kita diperkenalkan dengan Orasis. Ada seorang perempuan muda, cantik, dan kaya, tetapi hidup dalam kepalsuan. Namanya Putri, tetapi ia memaksa untuk dipanggil Apel.

Fang kemudian melanjutkan dengan Toast, menghadirkan perempuan yang hanya hidup dalam bayang-bayang kekasihnya. Ia bertemu seorang bartender di sebuah kafe dan mendadak keduanya menjadi pujangga.

Setelah Toast, Fang menyuguhkan Calon Menantu sebuah cerpen tentang seorang laki-laki bangsawan Jawa yang kehilangan kewarasannya. Kali ini Fang menunjukkan bahwa gadis Cina, walaupun dipandang rendah, ternyata bisa sangat meremukkan hati seorang laki-laki (yang dianggap) pribumi di Indonesia.

Dua Perempuan adalah kisah Fang mengenai 2 perempuan yang bertemu di sebuah wisma. Kembali Fang bertutur ala Cerita Ini Dimulai dari Tengah. Cerpen ini juga bisa dikatakan sebagai hasil proses mengejan Fang yang manis. Kedua perempuan yang diceritakan Fang dan tak diberi nama itu ternyata memiliki satu kesamaan yaitu menjalin hubungan dengan laki-laki beristri. Bedanya adalah paradigma mereka terhadap kehidupan yang dijalani.

Dalam Gong Xi Fa Chai, perempuan ciptaan Fang berbeda dengan perempuan-perempuan ciptaan lainnya. Perempuan ciptaannya kali ini adalah perempuan tua yang hidup sesuai filosofi fu lo shou. Pada usia 82 tahun dia mengenang dengan perasaan rawan bagaimana waktu mengerat tradisi yang seharusnya dipertahankan. Fang menutup cerpen ini dengan lirih. Dalam cerpen yang manis-sendu ini, Fang seharusnya berhati-hati menggunakan tokoh populer dalam cerpen. Kali ini Fang menggunakan Lin Ching Shia. Pada waktu berumur 7 tahun, si nenek telah dibandingkan dengan Lin Ching Shia. Hal itu tentu saja sudah tidak logis mengingat tidak mungkin ada anak kecil umur 7 tahun disamakan dengan perempuan dewasa (hal. 156). Pada usia 82 tahun, si nenek menceritakan bahwa anak perempuannya yang bernama Yi Che (hal. 163) mirip dengan Lin Ching Shia. Bagaimana mungkin? Berapa umur Lin Ching Shia ketika si nenek berumur 82 tahun? Jika dihitung-hitung mungkin sudah seratus tahun lebih. Padahal Lin Ching Shia yang artis cantik itu kan belum setua itu!

Menutup untaian serba perempuan Lan Fang, kita dihadapkan dengan perempuan yang sudah bosan 'beranak" dalam Bayi Ketujuh. Perempuan ini merasa sudah seperti cetakan puding agar-agar jelly. Setelah melahirkan 6 anak perempuan, dia harus melahirkan lagi anak ketujuh dengan harapan akan mendapatkan anak laki-laki. Sebuah cerpen sederhana, tetapi bernas dan cerdas, sehingga menjadi penutup yang pas buat antologi cerpen ini.

Akhirnya, karena antologi ini serba perempuan, seperti kata-kata Lan Fang (hal. 178), apa yang terjadi pada karakter-karakter perempuan ciptaannya bisa terjadi pada semua perempuan. Jadi, wahai perempuan, bacalah buku karya Lan Fang ini untuk menjadi "cermin" pribadi. Setelah "bercermin", kira-kira dalam cerpen mana Anda berada?




Data Buku:

Judul Buku : Yang Liu
Penulis : Lan Fang
Penyunting: Imam Risdiyanto
Terbit : Cetakan 1, Desember 2006
Penerbit: Bentang Pustaka

Asylum (Patrick McGrath)



Sebuah Cinta Katastrofik



"Hubungan cinta katastrofik yang bercirikan pada obsesi seksual menjadi ketertarikanku secara profesional...."

(Dr. Peter Cleave dalam "Madhouse")



Pada musim panas tahun 1959, Stella mengikuti suaminya, Max Raphael, seorang psikiater, yang bekerja sebagai wakil inspektur di sebuah rumah sakit jiwa di luar kota London.

Max ingin merekonstruksi konservatori tua di halaman rumah. Seorang pematung bernama Edgar Stark, pasien rumah sakit jiwa tersebut mendapat tugas untuk merestorasi konservatori. Edgar menjadi pasien rumah sakit jiwa setelah membunuh dan memotong kepala serta tubuh Ruth, istri sekaligus modelnya. Penyebabnya tidak lain karena Edward seorang paranoia berat yang terkungkung delusinya.

Adapun Stella, walau sudah beranak satu (Charlie) tidak merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga dan perkawinannya. Hubungan Stella dengan Max telah menjadi hambar. Begitu juga kehidupan seksual mereka. Pertemuan Stella dengan Edgar yang notabene adalah seorang pria tampan menguak sisi sensualitas Stella. Stella berselingkuh dengan Edgar. Perselingkuhan tidak hanya terjadi di konservatori, tetapi berlanjut di kamar tidur Stella dan Max. Edgar mencuri pakaian Max dan melarikan diri dari rumah sakit.

Anehnya, meski sudah tahu kondisi kejiwaan Edgar dan kecenderungannya melakukan kekerasan, Stella tidak peduli. Bahkan, demi Edgar, perempuan cantik ini meninggalkan keluarganya untuk hidup bersama dengan Edgar dalam kondisi yang menyedihkan. Ketika Edgar benar-benar melakukan kekerasan fisik, Stella meninggalkan Edgar. Tetapi cinta Stella tetap membawanya kembali pada Edgar. Saat bersamaan tempat persembunyian Edgar sudah diketahui pihak berwenang. Edgar melarikan diri lagi sementara Stella kembali pada suaminya.

Perbuatan Stella telah menghancurkan karier Max, suaminya. Namun Stella seakan-akan tidak peduli. Mereka harus meninggalkan rumah sakit jiwa tersebut dan pindah ke Cledwyn, Wales Utara. Di tempat itu pun Stella tidak bisa melupakan Edgar. Stella benar-benar sudah menjelma menjadi robot yang digerakkan oleh obsesinya terhadap Edgar. Sedihnya, Stella membiarkan anaknya mati.

Stella tidak dipenjarakan tetapi dirumahsakitjiwakan dalam perawatan Peter Cleave, rekan kerja suaminya yang sudah menjadi inspektur rumah sakit.

* * *

Madhouse jelas merupakan sebuah novel psikologis kental yang menyorot kondisi kejiwaan para tokoh utamanya yang mungkin sulit dipahami nalar. Tindakan Stella berselingkuh masih bisa dipahami, tetapi bagaimana Stella berkembang menjadi pribadi dengan kecenderungan masokis yang keras kepala sungguh sesuatu yang menggemaskan.Edgar adalah pribadi sakit. Tapi ternyata Stella lebih sakit lagi. Kondisi kejiwaan Stella sangat parah sehingga akhirnya dia mengambil tindakan yang mengejutkan di akhir novel.

Semua yang kita baca dituturkan oleh Peter Cleave selaku narator dalam novel ini. McGrath melukiskan kemahiran Cleave menarasikan tragedi kehidupan Stella. Apa yang Cleave ceritakan tentang Stella adalah penuturan Stella dalam sesi-sesi terapi dengannya.Sehingga Madhouse terbangun antara pengalaman dan pengamatan Cleave serta cerita versi Stella. Oleh karena itu pada bagian akhir (halaman 480)sedikit janggal ketika Cleave menjelaskan tentang apa yang dilakukan Stella selesai pesta dansa. Cleave toh tidak akan bertemu Stella lagi untuk sesi berikutnya dan saat itu Cleave tidak sedang bersama Stella.

Perhatikan halaman 486:

"Aku belum mengatakan padanya bahwa Stella ....... karena aku ingin mendengar cerita dari versinya dulu. Masih ada banyak pertanyaan yang harus dijawab."

Kalimat ini mengingatkan pada film "The Usual Suspect" (1995) karya sineas Bryan Singer. Dalam film ini hampir semua cerita dituturkan secara kilas balik oleh Verbal Kint (Kevin Spacey) di depan penyelidik. Semua yang dituturkan Verbal Kint ternyata kebohongan belaka. Sehingga semua yang Stella katakan pada Cleave tentu saja sengaja diposisikan pengarang untuk dapat dipertanyakan.Tetapi tentu saja belum tentu tidak benar. Dan karena baru dicetuskan menjelang novel berakhir, kesadaran itu memberi nilai lebih buat novel ini.

Pada akhirnya, jelas bagi kita bahwa Madhouse adalah sebuah kisah cinta.Tetapi bukan kisah cinta biasa, melainkan sebuah kisah cinta katastrofik berintikan obsesi seksual yang berkesan absurd. Sebuah kisah cinta melodramatis yang hanya bermuara pada lautan destruksi.

* * *

Sesungguhnya Madhouse yang berjudul asli ASYLUM telah difilmkan oleh sutradara David MacKenzie (II)dengan Natasha Richardson sebagai Stella, Marton Csokas sebagai Edgar Stark, dan Ian McKellen sebagai Dr. Peter Cleave (2005).

Alur film persis sama dengan novel, walau ending film dilukiskan lebih dramatis dan agak berbeda.

Sekalipun demikian, novel ini tetap tidak dapat diabaikan. Novel dipaparkan sedemikian rupa oleh penulisnya sehingga terasa sangat enak untuk dinikmati bahkan oleh yang telah nonton filmnya.Tentu saja dalam film kita tidak akan menemukan keindahan verbalisasi seperti dalam novel ini yang sesungguhnya merupakan kekuatan Patrick McGrath sebagai seorang prosais brilian. McGrath menguntai novelnya dalam kalimat-kalimat indah dengan aroma intelektual, dan karena dirangkai dengan sangat terkendali novel membentuk aliran sungai kata-kata yang mengalir lancar menuju lautan kegilaan tempat berakumulasinya obsesi, delusi, ilusi, dan gairah ragawi.

* * *

Karya yang indah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan cemerlang sehingga kesan cerdasnya begitu terasa dalam setiap halaman. Mungkin yang agak mengganjal hanya sampul novel yang tidak merefleksikan isi novel.Tetapi dengan mengabaikan sampulnya kita tetap akan mendapatkan sajian yang sangat memikat dan tak terlupakan.



Data Buku:
Judul Buku: Madhouse
Judul Asli: Asylum
Penulis: Patrcik McGrath
Penerjemah: Widati Utami
Penyunting: Marvel Neydi
Penerbit: Dastan Books, Cetakan 1 Januari 2007


Messiah (Boris Starling)




MESSIAH, DAYA PIKAT YANG MENAKUTKAN


Messiah. Judul yang singkat. Tetapi ketika membacanya, kita tidak dapat melupakan sengatan yang ditorehkan di benak kita (dan mungkin juga jantung kita). Boris Starling, penulis novel kelahiran tahun 1969 menerbitkan Messiah pada waktu dia berusia 30 tahun, sebagai debut yang sangat gemilang (1999). Lulusan Eton College dan Trinity College ini rupanya senang memakai judul hanya satu kata untuk novelnya. Setelah Messiah, dia telah menerbitkan novel berjudul Storm, Vodka, dan Visibility (www.borisstarling.com).

Di tangan Starling, Messiah menjadi sebuah thriller yang bergerak cepat dengan adegan-adegan yang mengerikan. Sejak awal novel kita telah diperkenalkan dengan darah, dan darah terus mengalir sampai novel mencapai akhir.

Novel dibuka dengan 2 pembunuhan yang terjadi secara berurutan dengan korban Philip Rhodes, pengusaha katering, dibunuh dengan cara digantung, dan James Cunningham, seorang uskup, dipukuli dengan brutal sampai mati.Tidak ada bukti yang ditinggalkan si pembunuh selain tanda pada mayat berupa lidah yang dipotong (dan dibawa pergi si pembunuh) dan sendok perak yang dijejalkan dalam mulut korban. Para korban dibunuh hanya memakai celana dalam.

Sebuah tim segera dibentuk di Scotland Yard, dipimpin oleh Red Metcalfe, seorang detektif terkenal, untuk mengusut pembunuhan yang terjadi. Selain dirinya, dalam tim tersebut terdapat Jez Clifton, Kate Beauchamp, dan Duncan Warren. Belum mendapat petunjuk apa-apa, pembunuhan telah terjadi lagi. James Buxton, seorang tentara dipenggal lehernya. Dugaan semula bahwa pembunuhan-pembunuhan tersebut kemungkinan berhubungan dengan perilaku homoseksual segera gugur begitu pembunuhan terjadi lagi. Bart (Bartholomew) Miller dibunuh dan dikuliti disusul Matthew Fox, dikapak sampai mati.

Sebagai detektif yang terkenal karena kemampuannya memasuki jalan pikiran para pembunuh dan berhasil menangkap mereka, Red merasa kewalahan. Sekonyong-konyong dia merasa kemampuannya dirampas darinya. Si Lidah perak, julukan tim Red untuk sang pembunuh, berulang kali berhasil mengencundangi Red.

Ada 2 pemikiran Red mengenai pembunuh berantai. Pertama, semakin banyak membunuh, semakin besar peluang si pembunuh tertangkap karena meninggalkan jejak atau bukti atau sesuatu. Kedua, tidak peduli berapa orang yang telah dibunuh, si pembunuh akan kembali membunuh kecuali ia berhasil ditangkap. Tetapi kecuali pemikiran yang kedua, tidak ada jejak atau bukti yang mereka dapatkan.

Secara tak sengaja, Red menemukan misteri di balik pembunuhan berantai tersebut. Mungkin jika memerhatikan nama-nama korban, ada pembaca yang mulai mengira-ngira. Ya, para korban terbunuh hanya karena nama mereka! Mereka memiliki nama yang sama dengan nama rasul-rasul yang menjadi murid Yesus Kristus seperti yang ada dalam Injil.

Tim Red segera menemukan alasan membunuh dari si pembunuh, yaitu si pembunuh mengidentifikasi dirinya sebagai Mesias seperti halnya Yesus. Segala usaha dikerahkan untuk mencegah terjadinya pembunuhan orang-orang yang memiliki nama seperti nama rasul yang belum menjadi korban. Tetapi, berulang-ulang tim Red dikecundangi lagi oleh si pembunuh.

Atas inisiatif Jez Clifton, tersangka si Lidah Perak yang juga dikenal sebagai pembunuh rasul akhirnya ditemukan. Red berharap setelah pembunuh ini tertangkap, dia bisa memperbaiki hidupnya lagi termasuk hubungannya dengan Susan, istrinya, yang di ambang kehancuran.

Justru, saat itu, dia mengetahui siapa sebenarnya pembunuh rasul itu, seperti tesis Red mengenai pembunuh berantai, ternyata muncul juga "sesuatu" yang ditinggalkan si pembunuh. Namun, saat itu telah terlambat untuk Red mencegah usaha pembunuhan yang memosisikannya sebagai calon korban.

* * *

Starling membagi novelnya dalam 3 bagian besar yang terdiri atas sejumlah sub bagian. Bagian pertama terdiri atas sub bagian 1 - 59. Bagian kedua terdiri atas sub bagian 60 - 115, sedangkan bagian ketiga terdiri atas sub bagian 116 - 126. Uniknya, ada sub bagian yang hanya berupa 1 kalimat yaitu sub bagian 74 (halaman 365). Terdapat 14 bab yang menceritakan kisah masa lalu Red. Ada 6 sub bagian yang merupakan ucapan si pembunuh, 1 sub bagian tentang pembunuhan yang dilakukan si Lidah Perak (bab 82), dan 1 sub bagian yang merupakan interpretasi Starling seputar peristiwa menjelang penyaliban Yesus.

Oleh penerbit, cerita masa lalu Red ditampilkan menggunakan "pattern", sehingga seharusnya bab 24 juga diberi "pattern" dan bukan bab 58 (halaman 283).

Starling juga mencantumkan tanggal-tanggal dalam novelnya. Hal ini penting, karena tanggal-tanggal itu tidak sembarangan dicantumkan. Oleh karena itu, sub bagian 53 (halaman 263) jelas keliru tanggalnya, seharusnya tanggal 21 September 1998, bukan tanggal 1 September 1998.

Starling jelas adalah pengarang yang cerdas. Mantan jurnalis di The Sun dan The Daily Telegraph ini menghadirkan cerita thriller misteri dengan begitu cemerlang, memperkenalkan sebuah gagasan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh penulis-penulis kaliber dunia lain. Keseluruhannya terasa sangat mengerikan, tetapi sekaligus sangat memukau. Teknik penyajian Starling yang dahsyat akan membuat pembaca terus terdorong untuk menuntaskan isi novel setebal 640 halaman ini (di luar halaman "iklan" dari penerbit).

Pembunuhan oleh pembunuh yang menyangka dirinya Mesias jelas-jelas kontradiktif. Perhatikan bahwa si pembunuh membunuh orang-orang dengan nama seperti nama murid Yesus seolah-olah dia sedang membunuh murid-murid Yesus yang sesungguhnya. Realitasnya Yesus tidak pernah membunuh murid-muridnya.Tetapi hal itu bisa dipahami karena selain pembunuhnya sudah pasti seorang psikopat tulen yang sakit jiwa parah, sebetulnya apa yang ia lakukan tidak lain adalah semacam pembalasan dendam yang diarahkan untuk menghancurkan Red, tubuh dan jiwa. Di akhir karyanya, pembunuh ini berharap Red yang akan bertanggung jawab terhadap semua pembunuhan yang telah ia lakukan.

Tetapi kita akan membaca, di ujung novel, justru Red "menegakkan" cerita tentang Mesias pada tempat yang sebenarnya, sebuah akhir yang gemilang dan jenaka. Seiring dengan itu Red mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya atas ketakutannya terhadap tesis kedua yang dia yakini.

Ada beberapa hal yang menarik dibicarakan. Pertama soal Paskah. Penulis kiranya agak kurang cermat. Paskah yang Yesus dan murid-muridnya rayakan di Yerusalem menjelang penyaliban berbeda dengan Paskah yang dirayakan umat Kristen saat ini. Paskah yang pertama dirayakan untuk memperingati bebasnya bangsa Yahudi dari penindasan di Mesir, sedangkan Paskah saat ini yang dirayakan umat Kristen adalah untuk merayakan kebangkitan Yesus Kristus. Paskah yang kedua ini hanya bisa dirayakan pada hari Minggu.

Jadi, peristiwa Jumat, 9 April 1982 (sub bagian 41), tidak terjadi pada malam Paskah, tetapi Jumat Agung. Coba bandingkan dengan ucapan si pembunuh pada halaman 615 (sub bagian 121, baris 6 - 7).

Kedua, perkataan si pembunuh pada Red soal uang 30 ribu paun (halaman 621). Dari mana ia tahu Red memberikan uang itu pada ayahnya? Sepertinya yang tahu soal uang yang diberikan pada ayah Red hanya Red dan ayahnya.

Dan berbicara mengenai 30 ribu paun, pada halaman 179 (sub bagian 34) terpeleset menjadi 30 ribu dolar (entah Starling atau penerjemahnya yang keliru).

Ketiga yang tidak kurang penting adalah celana dalam yang dipakai korban pada waktu dibunuh yang dikatakan dalam novel mengikuti Yesus yang disalibkan hanya menggunakan cawat. Hal ini kurang tepat, karena pada waktu disalibkan Yesus sebenarnya tidak memakai apa-apa. Kalau dalam gambar atau lukisan Yesus diberi cawat tentu saja karena masalah kesopanan dan penghormatan.

Yang terakhir, Bartholomew yang seorang laki-laki jelas seorang "Santo" dan bukan "Santa" seperti disebutkan pada halaman 294 dan 295.

Mungkin bagi orang lain hal-hal ini tidak penting, tetapi ini adalah sebuah novel misteri, sehingga kalau kita teliti membaca kita bisa melihat penulis begitu cermat menabur tanda bagi pembaca untuk menebak siapa sesungguhnya si pembunuh. Jadi dalam novel seperti ini hal sekecil apapun merupakan hal yang penting dan tidak bisa diabaikan.

Walaupun demikian, secara keseluruhan, novel ini tetap merupakan novel brilian, cerkas, enak dibaca, dan sangat memuaskan.



Data Buku:

Judul Buku : MESSIAH
Penulis : Boris Starling
Penerjemah : Eka Santi Sasono dan Rahmawati Rusli
Penyunting : Eka Santi Sasono
Tebal : 644 hlm
Terbit: Cetakan 1, Januari 2007

Penerbit : Ufuk Press

The History of Love (Nicole Krauss)



SEJARAH CINTA: SEBUAH BUKU TENTANG BUKU



"Wanita yang pertama diciptakan mungkin Hawa, tapi gadisku yang pertama tetap Alma" (Zvi Litvinoff, The History of Love)



Seorang pemuda bernama David menemukan buku berjudul The History of Love karya Zvi Litvinoff, seorang laki-laki yang melarikan diri dari Polandia ke Chili pada tahun 1941, di sebuah toko buku di Buenos Aires.

Bertahun-tahun kemudian, Jacob Marcus, meminta Charlotte Singer untuk menerjemahkan buku yang ditulis menggunakan bahasa Spanyol itu ke dalam bahasa Inggris. Bagi Charlotte buku itu mempunyai nilai sejarah yang sangat berarti.Suaminya telah memberikan kepadanya sebagai tanda cinta.

Setelah ayahnya meninggal, gadis bernama Alma, yang namanya diambil dari nama setiap gadis dalam buku The History of Love, melihat ibunya tidak bahagia. Setelah berbagai usaha untuk menjodohkan ibunya yang gagal, Alma berniat memecahkan misteri penulis buku serta gadis bernama Alma yang dipakai oleh si penulis. Ia menduga usaha yang ia lakukan dapat mengembalikan kebahagiaan ibunya.

Seorang pria tua bernama Leopold Gursky di tempat lain di kota New York sedang menanti waktu kematiannya. Leo tidak memiliki keluarga lagi, hanya seorang teman bernama Bruno. Leo tidak pernah menikah, hidup terus dengan cinta masa remajanya yang terpangkas karena perang. Sebelum perang, kekasihnya pergi ke Amerika meninggalkan tanah air mereka dalam keadaan hamil. Setelah perang, Leo menyusul ke Amerika hanya untuk mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya telah menikahi lelaki lain. Leo merasa kehilangan segalanya. Keluarga. Kekasih. Dan anak yang tidak pernah tahu jati diri ayah kandungnya.

Dalam pencarian Alma, gadis itu menemukan bahwa sesungguhnya Jacob Marcus adalah nama tokoh dalam novel berjudul "The Remedy" karya Isaac Moritz. Buku itu berhasil mendapatkan penghargaan National Book Award pada tahun 1972.

Pencarian Alma akhirnya mempertemukannya dengan Leo Gursky, atas inisiatif adiknya, Emanuel Chaim atau Bird, yang merasa dirinya adalah salah satu calon mesias.

Siapakah sebenarnya Leo Gursky?

Siapa juga sosok di balik Jacob Marcus?

Jawabannya tentu saja bisa ditemukan dalam novel mengharukan ini.

Di akhir novel, selain Alma akhirnya bisa memahami perasaan seorang laki-laki tua yang menunggu mati, pembaca juga dikejutkan dengan jati diri Bruno yang sebenarnya (hal. 329).

Nicole Krauss bertutur menggunakan beberapa narator. Leo dan Alma merupakan narator utama. Pada beberapa bagian Bird menjadi narator. Sisanya diceritakan menggunakan perspektif orang ketiga, yaitu pada waktu Krauss mengisahkan kehidupan penulis Zvi Litvinoff. Perhatikan keberhasilan Krauss ketika dia menggunakan Leo, Alma atau Bird sebagai narator. Ketiga-tiganya menggunakan gaya mereka sendiri yang khas, kendati ditulis oleh pengarang yang sama.

Krauss kelahiran New York tahun 1974 yang novel perdananya, Man Walks Into a Room, dinominasikan untuk Los Angeles Times Book Award berhasil memaparkan perjalanan hidup seorang pria Yahudi Polandia yang sebatang kara; bagaimana pikiran dan perasaan pria itu terhadap kehidupannya pribadi. Juga perjalanan seorang gadis menuju masa remaja untuk memahami cinta. Semua dijalin apik, unik, jenaka, dan sangat menyentuh.

Tidak bisa diabaikan adalah upaya penerjemah yang menurut saya berhasil menghasilkan karya terjemahan tanpa merusak gaya penulisnya.

The History of Love sama sekali bukanlah novel cinta-cintaan seperti chicklit atau teenlit. The History of Love adalah sebuah kisah mengharukan, tetapi bukan kisah yang cengeng. Sebuah buku tentang buku yang menyatukan para tokoh dalam jaring pesona keindahan cinta, dan kasih sayang.



Data Buku:

Judul : The History of Love (Sejarah Cinta)
Penulis : Nicole Krauss
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, November 2006