Tampilkan postingan dengan label Dastan Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dastan Books. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2009

The Crystal Garden (Mohsen Makhmalbaf)




SAAT PENDERITAAN, SAAT BELAS KASIHAN



Mohsen Makhmalbaf terkenal sebagai sutradara, penulis, editor, dan produser yang film-filmnya telah diikutsertakan pada festival film internasional lebih dari 1000 kali. Dia telah memperoleh lebih dari 20 penghargaan. Selain itu, Mohsen telah mempublikasikan lebih kurang 27 buku yang telah diterjemahkan dalam lebih dari 10 bahasa. Dalam dunia perfilman Iran, keluarga Mohsen Makhmalbaf dikenal sebagai dinasti Makhmalbaf.Karena selain dia, istrinya, Marziyeh Meshkini, kedua putrinya yaitu Samira dan Hana telah mengukuhkan diri sebagai sutradara film. Sekarang Mohsen dan keluarganya tinggal di Kabul, Afghan, membantu mendirikan sekolah dan rumah sakit. Sebelumnya Mohsen Makhmalbaf telah sukses mengirim ribuan anak Afghan bersekolah di Iran.

The Crystal Garden adalah salah satu novel racikan lelaki kelahiran Teheran 29 Mei 1957 yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh Dastan Books. Cerita berlatar Teheran, Iran pascarevolusi, saat perang Iran-Irak (1980 – 1988) berkecamuk. Hampir seluruh cerita terjadi di sebuah rumah besar dengan taman dan kolam yang disita negara dan pemiliknya lari keluar negeri. Ada berbagai perempuan dan berbagai kehidupan berkelindan di kamar-kamar pembantu rumah besar itu. Kita tidak akan menemukan cerita yang hanya digulirkan dari satu karakter. Tidak ada plot tunggal. Semua perempuan dalam novel menjadi karakter penting dengan plot kehidupan masing-masing yang dianyam Mohsen menjadi sebuah novel. Persamaan yang merekatkan mereka adalah mereka semua korban-korban perang. Meskipun tidak dalam arti terlibat langsung dalam peperangan.

Layeh, ditinggalkan suaminya, Mansur,yang gugur dalam perang dengan 2 anaknya, Salman dan Sareh dan seorang bayi yang masih dalam kandungan.Suatu ketika Layeh menerima pinangan seorang laki-laki bernama Karim karena dijodohkan orang-orang serumah. Tetapi ternyata Karim seorang tukang pukul dan tidak berniat menjadi ayah bagi anak-anak Layeh.Setelah Layeh keguguran, Karim menghilang dari kehidupannya.

Maliheh, seorang perempuan muda yang menikah dengan Hamid, veteran perang lumpuh dan telah kehilangan kemampuan reproduksi. Hamid sering meragukan cinta Maliheh. Maliheh memang mau menikahi Hamid karena percaya pengorbanan yang ia lakukan akan dibalas di akhirat. Padahal, sebagai perempuan, yang setiap hari melihat anak-anak teman serumah, Maliheh juga mendambakan anaknya sendiri.

Souri, seperti halnya Layeh ditinggalkan suaminya, Akbar, yang tewas dalam perang.Mereka telah memiliki 2 orang anak, Samireh dan Meysam. Souri tidak dekat dengan ibu mertuanya yang mempersalahkan Souri atas kematian anaknya. Souri dinikahkan oleh ayah mertuanya dengan adik suaminya, Ahmad. Ketika cinta mulai menyapa, terjadi sebuah peistiwa yang membuat Ahmad memutuskan ikut berperang. Souri ditinggalkan dalam keadaan hamil.

Alyeh, perempuan tua yang kehilangan 2 anaknya, Akbar dan Ahmad yang tewas dalam perang. Dan seolah tidak cukup, suaminya, Marshadi, juga nekat pergi berperang untuk kemudian tidak pernah kembali lagi.

Khorshid, mantan pembantu rumah besar yang dinikahkan dengan Ali, seorang pelayan,karena kecemburuan istri majikannya.. Ali ternyata tidak lebih dari seorang lelaki lemah yang kerjanya hanya duduk, mengeluh, dan mengisap candu.

Kehidupan para perempuan ini mencapai titik nadir ketika mereka digusur dari rumah besar. Di titik nadir tersebut, Souri melahirkan anak Ahmad. Souri yang lemah tidak bisa menyusui anaknya. Alyeh, ibu mertua Souri yang menjaga bayi Souri merasa putus asa karena tidak berdaya. Alyeh mendongak ke langit, mengigit bibirnya sampai berdarah, dan berteriak keras," Tuhan, di mana Engkau? Apa Kau tidak ada?" Satu pertanyaan yang mengiris hati. Pertanyaan yang bisa terucap oleh siapa pun ketika penderitaan yang menimpa terasa tidak tertanggungkan lagi dan seakan-akan Tuhan menutup mata atas semua yang terjadi. Pertanyaan yang sekaligus merupakan gugatan dari novel ini: siapakah penyebab penderitaan manusia? Tuhankah? Atau manusia sendiri?

Saat Alyeh berteriak lantang, teriakannya secara luar biasa disahut Tuhan. Tuhan tidak berada dalam peperangan. Tuhan sedang menanti terlewatnya ambang batas kemampuan manusia yang mengandalkan diri sendiri untuk memberikan kuasa-Nya yang penuh belas kasihan.

Mohsen menjalin kisah kehidupan manusia-manusia sengsara karena perang ini dengan indah dan apa adanya. Tidak ada yang dipaksakan. Tidak ada yang dibuat-buat. Kita akan dibawanya larut dalam kesedihan, penderitaan, ketakutan, harapan, dan ketidakberdayaan mereka. The Crystal Garden menjadi sebuah novel yang akan meninggalkan jejak yang tidak mudah terhapus dari benak pembaca, sajian yang memikat karena kepedihan yang disodorkan. Selain itu kita tidak akan mudah melupakan kalimat-kalimat indah Mohsen lewat bisikan hati dan kata-kata para tokoh yang diposisikan dengan sangat wajar pada tempatnya. Kita harus membaca sendiri untuk menemukan dan meresapi keindahan verbalisasi Mohsen.


Data Buku:

Judul Buku : The Crystal Garden
Penulis : Mohsen Makhmalbaf
Penerjemah : Elka Ferani
Penyunting : Melvi Yendra
Penerbit : Dastan Books, 2006

Sabtu, 02 Mei 2009

Asylum (Patrick McGrath)



Sebuah Cinta Katastrofik



"Hubungan cinta katastrofik yang bercirikan pada obsesi seksual menjadi ketertarikanku secara profesional...."

(Dr. Peter Cleave dalam "Madhouse")



Pada musim panas tahun 1959, Stella mengikuti suaminya, Max Raphael, seorang psikiater, yang bekerja sebagai wakil inspektur di sebuah rumah sakit jiwa di luar kota London.

Max ingin merekonstruksi konservatori tua di halaman rumah. Seorang pematung bernama Edgar Stark, pasien rumah sakit jiwa tersebut mendapat tugas untuk merestorasi konservatori. Edgar menjadi pasien rumah sakit jiwa setelah membunuh dan memotong kepala serta tubuh Ruth, istri sekaligus modelnya. Penyebabnya tidak lain karena Edward seorang paranoia berat yang terkungkung delusinya.

Adapun Stella, walau sudah beranak satu (Charlie) tidak merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga dan perkawinannya. Hubungan Stella dengan Max telah menjadi hambar. Begitu juga kehidupan seksual mereka. Pertemuan Stella dengan Edgar yang notabene adalah seorang pria tampan menguak sisi sensualitas Stella. Stella berselingkuh dengan Edgar. Perselingkuhan tidak hanya terjadi di konservatori, tetapi berlanjut di kamar tidur Stella dan Max. Edgar mencuri pakaian Max dan melarikan diri dari rumah sakit.

Anehnya, meski sudah tahu kondisi kejiwaan Edgar dan kecenderungannya melakukan kekerasan, Stella tidak peduli. Bahkan, demi Edgar, perempuan cantik ini meninggalkan keluarganya untuk hidup bersama dengan Edgar dalam kondisi yang menyedihkan. Ketika Edgar benar-benar melakukan kekerasan fisik, Stella meninggalkan Edgar. Tetapi cinta Stella tetap membawanya kembali pada Edgar. Saat bersamaan tempat persembunyian Edgar sudah diketahui pihak berwenang. Edgar melarikan diri lagi sementara Stella kembali pada suaminya.

Perbuatan Stella telah menghancurkan karier Max, suaminya. Namun Stella seakan-akan tidak peduli. Mereka harus meninggalkan rumah sakit jiwa tersebut dan pindah ke Cledwyn, Wales Utara. Di tempat itu pun Stella tidak bisa melupakan Edgar. Stella benar-benar sudah menjelma menjadi robot yang digerakkan oleh obsesinya terhadap Edgar. Sedihnya, Stella membiarkan anaknya mati.

Stella tidak dipenjarakan tetapi dirumahsakitjiwakan dalam perawatan Peter Cleave, rekan kerja suaminya yang sudah menjadi inspektur rumah sakit.

* * *

Madhouse jelas merupakan sebuah novel psikologis kental yang menyorot kondisi kejiwaan para tokoh utamanya yang mungkin sulit dipahami nalar. Tindakan Stella berselingkuh masih bisa dipahami, tetapi bagaimana Stella berkembang menjadi pribadi dengan kecenderungan masokis yang keras kepala sungguh sesuatu yang menggemaskan.Edgar adalah pribadi sakit. Tapi ternyata Stella lebih sakit lagi. Kondisi kejiwaan Stella sangat parah sehingga akhirnya dia mengambil tindakan yang mengejutkan di akhir novel.

Semua yang kita baca dituturkan oleh Peter Cleave selaku narator dalam novel ini. McGrath melukiskan kemahiran Cleave menarasikan tragedi kehidupan Stella. Apa yang Cleave ceritakan tentang Stella adalah penuturan Stella dalam sesi-sesi terapi dengannya.Sehingga Madhouse terbangun antara pengalaman dan pengamatan Cleave serta cerita versi Stella. Oleh karena itu pada bagian akhir (halaman 480)sedikit janggal ketika Cleave menjelaskan tentang apa yang dilakukan Stella selesai pesta dansa. Cleave toh tidak akan bertemu Stella lagi untuk sesi berikutnya dan saat itu Cleave tidak sedang bersama Stella.

Perhatikan halaman 486:

"Aku belum mengatakan padanya bahwa Stella ....... karena aku ingin mendengar cerita dari versinya dulu. Masih ada banyak pertanyaan yang harus dijawab."

Kalimat ini mengingatkan pada film "The Usual Suspect" (1995) karya sineas Bryan Singer. Dalam film ini hampir semua cerita dituturkan secara kilas balik oleh Verbal Kint (Kevin Spacey) di depan penyelidik. Semua yang dituturkan Verbal Kint ternyata kebohongan belaka. Sehingga semua yang Stella katakan pada Cleave tentu saja sengaja diposisikan pengarang untuk dapat dipertanyakan.Tetapi tentu saja belum tentu tidak benar. Dan karena baru dicetuskan menjelang novel berakhir, kesadaran itu memberi nilai lebih buat novel ini.

Pada akhirnya, jelas bagi kita bahwa Madhouse adalah sebuah kisah cinta.Tetapi bukan kisah cinta biasa, melainkan sebuah kisah cinta katastrofik berintikan obsesi seksual yang berkesan absurd. Sebuah kisah cinta melodramatis yang hanya bermuara pada lautan destruksi.

* * *

Sesungguhnya Madhouse yang berjudul asli ASYLUM telah difilmkan oleh sutradara David MacKenzie (II)dengan Natasha Richardson sebagai Stella, Marton Csokas sebagai Edgar Stark, dan Ian McKellen sebagai Dr. Peter Cleave (2005).

Alur film persis sama dengan novel, walau ending film dilukiskan lebih dramatis dan agak berbeda.

Sekalipun demikian, novel ini tetap tidak dapat diabaikan. Novel dipaparkan sedemikian rupa oleh penulisnya sehingga terasa sangat enak untuk dinikmati bahkan oleh yang telah nonton filmnya.Tentu saja dalam film kita tidak akan menemukan keindahan verbalisasi seperti dalam novel ini yang sesungguhnya merupakan kekuatan Patrick McGrath sebagai seorang prosais brilian. McGrath menguntai novelnya dalam kalimat-kalimat indah dengan aroma intelektual, dan karena dirangkai dengan sangat terkendali novel membentuk aliran sungai kata-kata yang mengalir lancar menuju lautan kegilaan tempat berakumulasinya obsesi, delusi, ilusi, dan gairah ragawi.

* * *

Karya yang indah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan cemerlang sehingga kesan cerdasnya begitu terasa dalam setiap halaman. Mungkin yang agak mengganjal hanya sampul novel yang tidak merefleksikan isi novel.Tetapi dengan mengabaikan sampulnya kita tetap akan mendapatkan sajian yang sangat memikat dan tak terlupakan.



Data Buku:
Judul Buku: Madhouse
Judul Asli: Asylum
Penulis: Patrcik McGrath
Penerjemah: Widati Utami
Penyunting: Marvel Neydi
Penerbit: Dastan Books, Cetakan 1 Januari 2007


Exorcist: The Beginning (Steven Piziks)


HARI INI TUHAN TIDAK ADA DI SINI!



Sebenarnya "Hell Angel" yang diterjemahkan dari "Exorcist: The Beginning" mengusung tema horor yang populer dalam perfilman era 70-an bersamaan dengan suksesnya film "The Exorcist" pada tahun 1973. Tema yang dimaksud adalah tema horor menggunakan makhluk halus, bukan seperti yang berkembang saat ini yang menggunakan psikopat sebagai pencetus horor. Walaupun akan mengingatkan pada "The Exorcist" sama sekali novel ini (yang diadaptasi dari skenario film "Exorcist: The Beginning") tidak berkaitan dengan film yang dibintangi oleh Linda Blair tersebut. Oleh karena itu, judul "Hell Angel" yang digunakan Dastan Books lebih terasa pas, kendati dalam novel ini tetap terdapat adegan pengusiran setan. Dan jika disimak dengan baik-baik, sesungguhnya bukan adegan pengusiran setan yang menjadi inti novel ini.

Semua berawal dari penemuan sebuah gereja kuno di Derati, Turkana (Kenya),sebagai efek samping dari penambangan emas. Gereja kuno itu diduga berasal dari sekitar tahun 500 Masehi. Anehnya, misionaris Katolik diketahui tidak sampai di sana pada masa itu, apalagi sampai membangun gereja. Lebih lanjut ditemukan gereja itu sengaja dikubur setelah selesai dibangun.

Adalah Lankester Merrin, arkeolog lulusan Oxford sekaligus mantan pendeta Katolik (di Indonesia penggunaan pastor lebih lazim dari pendeta untuk kalangan Katolik) dibayar oleh seorang bernama Semelier untuk terlibat dalam proyek penggalian situs tersebut. Merrin menerima tawaran Semelier dan meninggalkan Kairo menuju Turkana. Di Turkana dia bertemu dengan berbagai karakter yang berhubungan dengan situs gereja kuno tersebut, antara lain Mayor Granville,pastor muda William Francis dan seorang dokter perempuan cantik bernama Sarah Novack. Salah satu di antara mereka mengetahui rahasia di balik penemuan situs tersebut. Satu yang lain memiliki rahasia masa lalu yang terkait dengan akibat yang disebabkan oleh situs tersebut. Merrin menemukan ternyata di bawah gereja terdapat ruang bawah tanah yang usianya lebih tua dari usia gereja tersebut.

Seiring dengan upaya pemecahan misteri yang melingkupi situs gereja kuno itu,kematian demi kematian aneh dan peristiwa kerasukan setan terjadi. Terungkap bahwa tempat itu memiliki legenda yang tidak diketahui semua orang. Legenda itu menceritakan bahwa setelah perang di surga, Lucifer, iblis jelmaan malaikat sesat, jatuh di bumi tepatnya di lokasi situs. Tatkala Vatikan mengutus 2 pastor yaitu Theron dan Iason untuk memimpin pencarian tempat Lucifer jatuh bersama pasukan tentara Bizantium, peristiwa yang tidak diharapkan justru terjadi. Oleh karena itu, gereja kuno tersebut dibangun hanya untuk dikuburkan.

Berbarengan dengan tersingkapnya misteri gereja itu, terkuak juga masa lalu Merrin yang menyebabkan dia meninggalkan tugasnya sebagai pastor, sekaligus berpaling dari gereja Katolik. Keping-keping masa lalu Merrin yang rancu menyatu membentuk alasan sebenarnya yaitu sesungguhnya bukan gereja yang telah menyakitkan hati Merrin. Tetapi Tuhan!

TUHAN TIDAK ADA DI SINI SEKARANG! Itulah sebenarnya masalah keimanan Merrin. Ketika dia membutuhkan Tuhan pada saat tergenting dalam karier pastoralnya, Tuhan seolah-olah bergeming. Kenyataan itu membuat iman Merrin terguncang.

Di penghujung novel, jelaslah bagi kita kalau perjalanan Merrin ke Derati adalah sebuah rencana jitu yang telah disusun, sebuah perjalanan untuk mencari imannya yang hilang. Tidak ada lagi kasus sebesar misteri yang terpendam di bawah gereja kuno itu yang sanggup membuat Merrin menemukan imannya kembali.

Di penghujung novel juga, ketika Merrin melakukan pengusiran iblis, dengan licik iblis memanfaatkan dosa-dosa dan rasa bersalahnya di masa lalu untuk memangkas kuncup-kuncup iman Merrin yang baru mulai tumbuh. Meski tesis kelicikan iblis ini sesuai dengan ajaran Kristen saat ini, tetapi teknik pengusiran yang dipakai Merrin terasa sangat menggelikan. Itulah sebabnya adegan pengusiran iblis menjadi berlarut-larut. Perhatikan betapa kacau balaunya Merrin menghadapi iblis yang saat itu menggunakan mediator yang tidak diduga oleh Merrin (dan pembaca sebelumnya).Jangan berani mencoba mengusir iblis jika Anda tidak siap seutuhnya!!

Steven Piziks bisa dikatakan sukses mengadaptasi skenario film yang disusun Alexi Hawley berdasarkan cerita William Wisher dan Caleb Carr ini ke dalam novel. Kita tidak akan menemukan pikiran atau perasaan mendalam para tokoh cerita dalam sebuah skenario (dan film), karena para aktorlah yang bertugas sebisa mungkin menerjemahkan pikiran dan perasaan tokoh yang diperankannya di layar film.Tetapi Piziks menggali semua itu dan berhasil membubuhinya ke dalam adonan cerita.

Alhasil, di tangan Piziks, terbangunlah sebuah novel horor dengan deskripsi teror yang cukup. Novel mengalir lancar mengantarkan horor tanpa bertele-tele,mencekam sekaligus mengejutkan.

Sekedar tambahan, malaikat-malaikat seperti Mikail, Gibrael (Jibril), Uriel, Rafael, memang dapat ditelusuri dalam Alkitab. Tetapi Lucifer? Sama sekali tidak ada referensi nama ini dalam Alkitab. Entah siapa yang menamakan malaikat sesat itu sebagai Lucifer.

Gagak dan lalat dalam novel ini merupakan simbol. Kalau gagak adalah simbol kematian, lalat adalah simbol pengaruh iblis sendiri. Iblis memang dikenal juga sebagai Beelzebul yang dapat diartikan sebagai 'raja lalat'.

Sebagai koreksi, pada halaman 441 dicatat bahwa vasodilator adalah "alat" untuk fungsi dilatasi pembuluh darah. Fungsinya benar, tetapi vasodilator sama sekali bukan alat. Vasodilator adalah "obat" yang digunakan untuk melebarkan (dilatasi) pembuluh darah.



Data Buku:

Judul Buku : Hell Angel (Evil in the Byzantine Church)
Penulis : Steven Piziks
Judul Asli : Exorcist: The Beginning
Penerjemah : Dina Mardiana
Penyunting : Ali Yahya
Penerbit : Dastan Books, Cetakan 1 November 2006